Ken Pieper Residential Designs
Thu, 28 Jan 2010 22:01:17 +0000


Gold Award for Best Home Design — 1,701 to 2,400 Square Feet
Four Seasons Charlottesville, Creston II, has 600 detached single-family homes with spacious floor plans, just as K. Hovnanian Homes intended it. The home's living room and dining room are open to each other, so if a homeowner doesn't want a formal living and dining room, the room can be combined. The kitchen and family room sit at the back of the house where a wall of windows offers natural light. The kitchen's peninsula sink with a bar top, which faces the family room, offers a place to gather for drinks. The master bathroom has his-and-her sinks along with his-and-her closets in the master bedroom. The design is flexible in terms of space, but it is also universally designed for future use. The bathroom is reinforced for grab bars to be added if needed, and the shower is wide enough for a wheelchair. State of the art wiring is available with optional panic cell remotes.
Project Name: K. Hovnanian's Four Seasons Charlottesville, Creston II
Project Location: Ruckersville, Va.
Developer/Owner: K. Hovnanian's Four Seasons Active Adult Communities, Chantilly, Va.
Architect: K. Hovnanian Homes, Cary, N.C.
Builder: K. Hovnanian Four Seasons Active Adult Communities, Chantilly, Va.
Marketing Firm: SB&A, Richmond, Va.
Interior Designer: Design Works, Fairfax, Va.
Photography: Alan Goldstein Photography
Gaya hidup tidak sehat,menikah usia dini,ibu yang melahirkan banyak anak,dan perempuan dengan banyak pasangan beresiko tinggi terkena penyakit kanker leher rahim.Mirisnya lagi,kesadaran deteksi dini sangat rendah.Bagaimana menyikapinya ? dokterkita@cbn.net.id
———————————-
Mengintai dan mengancam kaum perempuan,itulah lakon yang di perankan kanker leher rahim.Karena lakonnya itu pula,jumlah kematian yang ditimbulkan penyakit ini terus menunjukan peningkatan setiap tahun.Bahkan,kanker leher rahim telah menjelma menjadi pembunuh perempuan nomor dua setelah kanker payudara.
Laporan terakhir organisasi kesehatan dunia WHO menyebut, kanker leher rahim telah merenggut hingga lima juta nyawa perempuan di seluruh dunia.DI negara maju seperti Amerika Serikat,kanker leher rahim ,yang di sebut juga kakner mulut rahim atau serviks menempati urutan ketiga penyebab kematian perempuan.Bahkan di Amerika Serikat setiap tahunnya terdapat 12.000 kasus baru kanker leher rahim.
Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia.Meskipun angka pastinya masih gelap,namun diperkirakan ada sekitar 90-100 penyandang kanker leher rahim diantara 100 ribu penduduk.
Menurut Direktur Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD),Dr.Sri Hartini,SpPK,MARS,selama 13 tahun sejak RSKD berdiri,kanker leher rahim menempati peringkat kedua jumlah penyandang terbanyak se telah kanker payudara.
Sayangnya,kata Sri,seperti kanker lainnya,mayoritas penyandang kanker leher rahim datang dalam kondisi stadium lanjut.”Hal tersebut tentu saja menyulitkan,baik dari sisi medis dan pelayanan,maupun begi pasien karena menyebabkan tingginya biaya pengobatan,” kata Sri.
DR.Dr.Andrijono,SpOG(K),Sta f SUbbagian Onkologi Ginekologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM menyebutkan,saat ini prevalensi kanker servik di RSCM sebanyak 400 pasien baru setiap tahunnya.
Senada dengan Andrijono, Dr.Yunita Indarti,SpOG(K),Staf Subbagian Sitopatologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM memaparkan,berdasarkan data 13 pusat patologi anatomi di indonesia, kanker leher rahim memiliki jumlah tertinggi dari seluruh kanker,baik yang menyerang laki-laki maupun perempuan,sekitar 27% atau 36% dari seluruh kanker pada perempuan.
“Data dari gabungan rumah sakit di indonesia juga tinggi.Di negara berkembang seperti Indonesia,tingginya insiden kanker leher rahim karena tingkat kesadaran melakukan deteksi dini masih rendah,” katanya.
Keganasan kanker leher rahim cenderung terjadi ada usia pertengahan antara 35-55 tahun,
dan jarang terjadi pada usia dibawah 20 tahun.Sedangkan wanita diatas 65 tahun,angka terjadi sekitar 20%. “Sampai sekarang penyebab kanker servik masih dianggap human human papilomavirus (HVP),” kata Andrijono.
Sebagian besar penularan virus ini,lanjutnya terjadi melalui hubungan seksual.
Perempuan yang memulai aktivitas seksual pada usia kurang dari 18 tahun,sering melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan,dan menderita infeksi di daerah sekitar kelamin,jelas Andrijon,
merupakan golongan yang berpotensi menyandang kanker jenis ini.
Perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual pada usia kurang dari 18 tahun berpotensi mengidap kanker leher rahim, karena sel-sel alat reproduksi belum matang pematangan secara maksimal. Akibatnya daerah sekitar ini akan dengan mudah terinfeksi virus,termasuk virus HPV.
HPV juga dapat dibawa oleh laki-laki yang lebih bersifat sebagai mediator namun memiliki kebiasaan dan gaya hidup tertentu. Perempuan baik-baik yang memiliki suami atau pasangan sering berhubungan seksual berganti-ganti pasangan juga sangat berpotensi mengidap kanker leher rahim.
Selain pola gaya hidup yang kurang sehat,ibu yang melahirkan banyak anak dan perempuan perokok juga beresiko tinggi terkena penyakit kanker leher rahim.
Perempuan perokok disebutkan memiliki resiko mengidap kanker leher rahim dua kali lebih besar dari bukan perokok.Meskipun demikian rata-rata perempuan yang menderita gejala penyakit ini tidak menyadari bahwa dirinya mengidap kanker leher rahim.
Sebab,umumnya penyakit ini tidak menunjukan gejala yang signifikan dan tidak mencirikan gejala fisik yang
dapat dilihat secara kasat mata.
Secara umum,kata Andrijono, semua perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual mempunyai resiko tinggi terkena kanker leher rahim,terutama perempuan dengan banyak pasangan (multipartner).
Penularannya bisa secara tidak langsung (indirect), misal dari air yang kotor,seperti di salon atau alat-alat yang tidak steril dipakai di vagina.
Gejala pada kanker servik biasanya pendarahan diwaktu senggama atau keputihan secara terus menerus dan tidak hilang meski telah diobati dengan obat keputihan.
Hal tersebut disebabkan banyaknya sel kanker yang memproduksi lendir. “selama masih ada selnya,selama itu masih mengeluarkan lendir. Selain itu, baunya khas,bau busuk.Biasanya gejala muncul pada stadium dua atau tiga,” imbuh Andrijono. Bila timbul nyeri pada panggul, berarti kanker sudah mencapai tahap lanjut.
Yunita menambahkan,pada tahap pra kanker,bila diobati dapat sembuh 100%. Kebanyakan di Indonesia, pasien kanker terutama kanker servik datang pada kondisi stadium lanjut yaitu stadium 2 dan 4 dan hanya dapat melakukan kemoterapi atau radiasi sementara harapan hidup berkurang sekitar 80%. Di RSCM kematian akibat kanker servik sekitar 66%. “Padahal,kanker servik adalah satu-satunya jenis kanker yang dapat dilakukan pendektesian dini,” katanya.
Minimnya kesadaran melakukan deteksi dini adalah mimpi buruk bagi penanganan kanker di Indonesia. Mayoritas pasien datang dalam kondisi parah. Sri Hartini mengistilah kan,pasien kanker pergi ‘ke orang pintar dahulu’ baru ke dokter ahli. Jika hal tersebut terus terjadi,tak mustahil jika kanker,apapun jenisnya, menjadi pembunuh nomor wahid di negeri ini.
- Posted in Tom Bartlett Design

